What do you think about AIDS Privacy?

Di masa sekarang ini banyak sudah ada di berita2 mengenai HIV-AIDS… Dimana2 terdengar semakin banyak penderita HIV-AIDS (ODHA) yang bermunculan, dari yang cuma ketauan ga sengaja, sampai yang gejalanya lengkap…

Dengan adanya ARV (Anti Retro Viral) obat yang bekerja mengurangi viral load dari virus HIV itu sendiri…

HIV dapat menular melalui hubungan sex dan yang paling menular adalah bila kontak darah…

Nah biasanya sekarang yang namanya ODHA si ada yang sadar untuk bilang kalo dirinya penderita ODHA tapi lebih banyak lagi yang merahasiakan, dengan alasan supaya tetap mendapatkan pelayanan…Tapi hal ini akan sangat merugikan bagi para dokter.

Nah temen dokter yang notabene banyak berkaitan dengan darah penderita seperti dokter bedah, obgyn, dan rekan dokter gigi itu yang paling berisiko tertular apabila menangani pasien ODHA walaupun sesungguhnya yang namanya primary prevention sudah ditegakkan tapi kemungkinan tertular tetap aja ada…

Nah yang banyak komentar beredar, apakah pemeriksaan screening HIV itu masi perlu yang namanya conseling, ataukah kita bisa melakukan test HIV seperti pemeriksaan HBsAg atau Anti HCV yang sama cara penularannya demi mengetahui apakah ada kemungkinan pasien tersebut adalah penderita HIV+?

Apakah HIV itu masi merupakan hal yang eksklusif?

mohon komentar….

Advertisement

7 Responses to “What do you think about AIDS Privacy?”

  1. itu maksudnya primary prevention apa universal precaution?
    universal precaution tetap harus dilakukan oleh dokter di garda depan, karena infeksi tidak cuma HIV saja yg bisa tertransimikan.

    selama stigma terhadap hiv masih tinggi, konseling itu tetap penting.
    untuk memperluas cakupan orang yg terpapar hiv sehingga ketahuan hiv atau tidak sedang diwacanakan ITP, initiated testing by provider. ini tetap menjunjung tinggi konseling dan kerelaan.

  2. xiphoideus Says:

    primary prevention yang dimaksud dalam hal ini adalah universal precaution…
    Emang bener hal itu tidak hanya untuk AIDS tapi pencegahan agar tidak terinfeksi oleh semua penyakit infeksi…
    Seharusnya universal precaution itu wajib dikerjakan oleh para dokter di garda depan…
    Tapi kalau seandainya para ODHA itu semuanya terbuka, akan lebih mudah bagi para dokter yang akan menanganinya…

  3. jadi bingung…
    mestinya sih konseling dulu baru test HIV.
    tapi kalo kepepet, gimana lagi donk?
    kan demi kebaikan bersama juga ;)

  4. HIV ditangani setelah menjamur….
    HIV hanya mau disembuhkan bukan dihindari. Mestinya lebih cocok menghindarinya…. Memakai kondom bukan menghindari tetapi mendekati.. dan itu sama saja dengan NEKAD.
    Maka siapa mau pake kondom artinya terpengaruh berbuat NEKAD.
    Pemerintah TULI…. sebab ketika penyakit itu belum ada di Indonesia … maka sikapnya tidak mengantisipasi.
    Lebih memilih uang dollar masuk Indonesia dari pada mengusir TURIS yang membawa HIV.
    Kita telah menanggung akibatnya.
    Beginilah pola kerusakan di Indonesia yang merusak sendi budaya dan kehidupan kita.
    Hanya GENERASI MUDA yang baik, yang mampu menjawabnya, dan mengubah kesalahan generasi pendahulunyaa

  5. xiphoideus Says:

    Wah terimakasih sekali aas komennya…
    Itu benar sekali, pencegahan adalah yang terbaik…
    Hanya saja para dokter yang merupakan garda depan pelayanan kesehatan tetap punya hak untuk tidak sampai tertular HIV…

  6. Kalau saya pasien AIDS setres juga ya…..
    pengennya penyakit sembuh, tapi kalau dokternya tau saya AIDS pasti sangat dihindari dan dibedakan. Karena AIDS itu penyakit stigma, jadi banyak orang takut karena stigma yang akan muncul.
    Waktu ikut dokter yang dapet pasien bayi dengan AIDS aja, dokternya cepet-cepet pake sarung-tangan-latex (apa sih bhs indo nya ?), periksa fisik seperlunya, dan tulis hasil konsul. Mama si bayi, lihat dokternya kayak gitu, yaa cuma diem aja.
    Kalau nanti saya jadi dokter, saya pasti sangat bersyukur pasien saya bilang “dok, saya ODHA”, tapi hal itu sulit, karena AIDS penyakit stigma.
    Berarti semuanya balik ke dokter lagi dong…. Gimana cara dokter sendiri menghapuskan stigma, karena kan kita yang menjadikan penyakit ini jadi penyakit stigma.
    Jiaahhh!!! uhuy dah!

  7. aku pasrah aja deh……….kalau kena nasib deh……ha…ha….ha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.